#365HariMenulis

Tahun lalu, waktu saya masih punya blogspot, disitu saya membuat postingan untuk #365harimenulis. Bukan sedang ikut kampanye berbayar, tapi sekedar tantangan untuk diri sendiri supaya bisa berkarya lebih rajin dalam menulis, sekaligus mencoba mengembangkan diri mempertajam keterampilan bermain dengan kata kata.

Berjalan dua bulan semua itu menjadi kegiatan menyenangkan yang terpaksa saya lakukan, demi berkembang. Tapi kenyataan nya, semua itu hanya bertahan 6 bulan. Tidak terlintas untuk jadi seorang penulis, blogger atau apalah sebutannya. Saya tidak ingin hari saya habis dan terbuang begitu saja tanpa menghasilkan karya atau tidak mendapat ilmu baru, pikir saya waktu itu. Setidaknya, ada yang berguna untuk saya atau orang lain. Ternyata itu bukan hal mudah. Bukan karena saya sibuk dikantor sehingga saya tidak punya cukup waktu, bukan juga karena selalu pulang malam yang membuat saya terlalu lelah untuk menulis. Itu semua mungkin jawaban egois saya, ketika menyalahkan pihak luar untuk menutupi kegagalan saya. Pendeknya, sebagian dari kira mungkin kerap menyalahkan banyak hal diluar diri kita. Padahal, persoalan terbesarnya justru terdapat dalam diri kita sendiri.

Musuh terbesar kita sebenarnya adalah pikiran kita sendiri. Pikiran negatif. Ketika pikiran negatif muncul untuk menguasai akal pikiran, disitu semua bencana bermulai, menurut saya. Ketika sedang mengalami kesulitan, pikirannegatif mulai merajalela bekerja mengeluarkan pikiran pipkiran busuk dan buruk, mencari pembenaran, dan berujung pada sebuah asumsi dan penilaian bahkan penghakiman. Dalam kondisi seperti itu, banyak sekali muntahan – muntahan kalimat pembenaran, sarkastik dengan nada mulai meninggi dan menyindir yang mungkin hanya membuat kita merasa “senang” sementara karena memuaskan hawa nafsu atau ego diri sendiri yang sebenarnya kita tahu, itu tidak akan mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

 

KREATIF Part I – Apa itu Kreatif

“If we adopt the same collaborative mindset and practices that got to the moon and back, and that built the International Space Station, we can alleviate poverty–and do much more.”
― Astronaut Ron Garan 

Ya, buat kamu yang belum tahu, industri kreatif itu punya banyak subsektor. Ada periklanan, arsitektur, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, pasar barang seni, musik, kerajinan, fashion, kuliner, riset dan pengembangan, aplikasi dan software, desain, permainan interaktif (game), seni pertunjukan, serta video, film, dan fotografi.

Capek juga ngetiknya. Banyak lohh ternyata, ada lima belas. Dan subsektor-subsektor ini saling terhubung.

Anto Motulz, seorang creative director yang udah punya segudang pengalaman di berbagai bidang kreatif, pernah menulis suatu blog post berjudul Rahasia Ekonomi Kreatif yaitu Berani Berkolaborasi. Di tulisannya, Motulz bilang kalau di Indonesia, masih banyak pekerja kreatif yang belum berani berkolaborasi, dalam arti mengerjakan satu proyek–yang seharusnya adalah proyek kolaboratif–sendiri. Ini kata Motulz:

“…saya masih sering menjumpai seorang animator yang untuk membuat karakter tokoh, konsep visual, art directing, bahkan sampai penulisan cerita pun.. harus dia yang mengerjakan. Alasannya? Karena dia yang merasa paling paham konsep di balik animasi yang akan dibuatnya.”

Nah sebelum lebih jauh bahas tentang issue yang sekarang memang sedang jadi sorotan, yaitu tentang Kolaborasi, saya mau coba jelaskan beberapa hal, pendapat atau fakta yang bisa menggambarkan sedikit tentang APA ITU KREATIF ? sebelum nantinya di postingan selanjutnya, saya mencoba lagi membahas tentang APA ITU KARYA KREATIF, SIAPA ITU PEKERJA KREATIF, GIMANA CARA BERFIKIR KREATIF sampai JAM KERJA ANAK KREATIF, menurut pandangan saya. Tertarik?

Kita mulai dulu dari Apa itu Kreatif?

Creative Mind

Apa itu Kreatif?

Kata “Kreatif” merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris To Create, yang merupakan singkatan dari : Combine (menggabungkan)–penggabungan suatu hal dengan hal lain; Reverse (membalik)–membalikan beberapa bagian atau proses; Eliminate (menghilangkan)–menghilangkan beberapa bagian; Alternatif (kemungkinan)–menggunakan cara, dengan yang lain.; Twist (memutar)–memutarkan sesuatu dengan ikatan; Elaborate (memerinci)–memerinci atau menambah sesuatu. #azeekkyahh

Ketika kamu mendengar kata kreatif atau kreativitas, apa yang tergambar atau terbayang dalam benak kamu? Sebagian dari kita mungkin membayangkan para seniman. Tapi, pada kenyataannya kreatif dan kreativitas jauh lebih baik dan luas dari yang kita bayangkan.
Kreatif berarti mempunyai kreativitas, yakni kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Hal itu yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Kreativitas merupakan naluri yang terdapat sejak lahir. Olehnya itu, setiap manusia pada dasarnya juga kreatif. Namun, hanya diperlukan suatu usaha manusia tersebut dalam mengembangkan kreativitasnya. Jangan pernah terucap di lisan ataupun terlintas di pikiran kamu “Gue kan ngga kreatif”.NEVER. 
Kalau kamu googling, dan ketik “apa itu kreatif” pasti dijamin banyak banget penjelasan dari berbagai orang tentang pengertian Kreatif itu sendiri, tapi menurut saya. Kreatif itu adalah ini :

“kreatif adalah orang yang dapat berpikir secara sintesis, artinya dapat melihat hubungan-hubungan dimana orang lain tidak mampu melihatnya – yang mempunyai kemampuan untuk menganalisis ide-idenya sendiri serta mengevaluasi nilai ataupun kualitas karya pribadinya – mampu menterjemahkan teori dan hal hal yang abstrak ke dalam ide praktis – juga berfikir dalam menyelesaikan masalah. Kreativitas adalah kemampuan orang untuk membuat perbedaan. Kemampuan untuk Berani, berani mencoba, dan berani salah. “

Teman-teman saya sering bilang “lo kan kreatif, Bay – gue mah engga” – dan kalimat itu lama lama menjadi momok yang menyebalkan, ketika situasinya sudah tidak lagi kondusif dan diluar konteks. #apasih ; Yaa Misalnya pada saat acara ulang tahun sahabat, karena semua teman teman saya tidak punya ide untuk membuat acara surprise, semua mata tertuju ke saya (ngga punya ide sama males mikir beda tipis sih ya) – kemudian mengatakan : “Ngapain nih? ide dong Bay, lo kreatif” – Ada lagi “Baju gue bolong kena rokok, diapain ya Bay, lo kan kreatif” – “Ngga ada talenan di apartment gue, pake apa ajalah buat jadi alas motong sayur nya, lo kan kreatif Bay” dan situasi absurd lainnya.

Sudah hampir 9 tahun saya bekerja di Industri yang menuntut saya menggunakan naluri, insting atau sifat Kreatif untuk membantu pekerjaan saya, mulai dari membuat konsep, membuat script, editing video, bahkan sampai memilih gambar, audio dan yang terpenting adalah ketika menghadapi permasalahan dalam bekerja, problem solving. Problem Solving dalam pekerjaan adalah salah satu contoh kasus besar yang memerlukan kreatifitas tingkat tinggi, menurut saya. Saya mau banget bahas beberapa kasus problem solving selama saya bekerja di Industri, kalian juga boleh ikut bercerita kok.

Banyak hal yang membuat saya sampai hari ini “betah” bekerja di Industri Media. Awalnya, saya kira ini semata mata hanya karena skill yang saya miliki, sampai saya mulai menyadari, ini Passion saya.

Pernah dengar kalimat “bekerja senikmat bernafas” ? – kira kira begitu penggambaran asiknya berproses kreatif. Let’s start think in a creative way.

Selamat hari Minggu 🙂

see you on the next post KREATIF Part II – Bekerja karena hobi yang dibayar atau Passion ?

Kopi, Mas? 

“Udah mahal, bikin ribet lagi!”
Tiba tiba gue ngerasa jadi orang paling bodoh karena mesen kopi di dalam pesawat. Ngga ngebantu sama sekali dalam masalah perngantukan gue, bahkan sebenernya yang badan dan tenggorokan gue butuhin bukan kopi, tapi perkara mba mugari yang tiba tiba nyolek gue disaat gue lagi mimpi indah yang nota bene gue ngantuk super parah dan perlu tidur banget haru itu- jadinya gue randomly mesen kopi. Kira kira begini percakapan kami

Mba mugari : “pagi mas, kopi maaass” 

dengan suara cempreng dan gue sempet heran kenapa dia nawarin kopi ke gue kaya dia jualan kopi di alun alun. Sontak dong, gue yang lagi tidur ayam, kebangun dan reflek jawab :

“ah, boleh mba Kopi” jawab gue sambil setengah mata merem melek.

Jawaban itu keluar dibawah alam sadar gue, dan yang kayanya saat itu gue jauh banget ngayalnya, gue baru sadar ketika mba Mugari, ngasih kopi gue sambil bilang “kopinya jadi 20rb ya mas” sambil senyum polos ngeliat gue yang langsung setengah kaget muka nya

Gue dari ngantuk ngantuk ngablo tiba2 melek sadar “astaga! Gue naik air asia, kirain garuda!” Moment bengong berikutnya terjadi.
Dengan rasa berat hati tapi mau gimana lagi, gue ambil dompet dan uang 50 ribuan buat bayar kopi sialan harga 1000x lipat ini. – life must go on yakan. 

Setelah kopi ada didepqn muka gue, gue sadar. “Yatuhan, gue kan belum tidur seharian, dan barusan lagi enak enaknya bisa tidur di pesawat” Gimana ceritanya gue bisa tidur tapi ada kopi tanpa tutup gelas yang aman ada di depan gue. “Eek! Gue jadi gabisa tidur. Mata merem, tapi tangan insecure megangin kopi takut jatuh. 

“Yasalam, diminum engga, ngeribetin iya” 

Selamat jadi zombie di Bali, Bay! 
Sanur / 14 Okt 2017

Waktu

Hari ini kejadian lagi, mundurin jam meeting. Gue kadang suka ngga ngerti apa yang ada dipikiran mereka, orang yang suka mundurin atau bahkan ngebatalin meeting tiba tiba. Di otak gue cuma satu “Paham yang namanya menghargai waktu ngga sih?”

master-of-time

Menurut Kamus besar bahasa Indonesia (2009) menghargai adalah menghormati, mengindahkan, memandang penting (bermanfaat dan berguna). Seseorang akan menghormati atau mengindahkan seseorang (atau sesuatu) ketika memandang penting seseorang (atau sesuatu) itu. Waktu menurut kamus besar bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa menghargai waktu adalah ketika seseorang dapat menggunakan waktu yang dimiliki untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Quality time atau waktu yang berkualitas merupakan refleksi dari berharganya setiap detik yang dilalui. Sejatinya, dalam kehidupan manusia memang tidak ada waktu yang tidak berkualitas karena waktu merupakan sesuatu yang berharga untuk dimanfaatkan dalam kehidupan manusia.

Nah, lanjut di kekesalan gue hari ini *mendadak murka dan bad mood seharian*. Jadi, ketika lo seenaknya mundurin kemudian ngebatalin atau nge-reschedule janji meeting secara mendadak, it’s a big NONO buat gue, cerminan dari sikap tidak menghargai waktu, tidak menghargai orang lain. Intinya, di umur yang baru mau masuk 30 th, gue mulai ngerasa benar adanya pepatah bilang “waktu lebih berharga daripada uang”. Waktu adalah sesuatu yang terus berjalan, selalu menuju ke masa depan dan meninggalkan masa lalu. Bahkan pada saat semua makhluk hidup berhenti melakukan aktivitas apapun waktu akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, tidak semakin cepat ataupun semakin lambat. Waktu adalah guru yang terbaik bagi setiap pembelajaran. Oleh sebab itu, memanfaatkan waktu merupakan sesuatu yang sangat bijaksana dalam menjalani kehidupan. Karena kalimat “menghabiskan waktu” adalah pekerjaan mudah dan seringkali kita lakuin, tapi yang susah adalah, bagaimana lo “menginvestasikan waktu.” Disaat kita lagi ngga punya apa apa, ngga punya rumah, pacar, uang, baju baru, sepatu  baru, kerjaan baru dan ngga punya lainnya, satu hal yang selalu kita punya, Waktu.

Jadi, apa lo sudah menginvestasikan waktu lo dengan baik dan bijak?

Kamis, 12 Oktober 2017 / Dikantor

Gelas Kopi dan Sendok Besi

a_small_cup_of_coffeeSesampainya dikamar ini,

Aku merasakan dinding bisu yang tak tahan ingin memeluk ku.

Aku hanya melihat selimut coklat, terlipat seperti tumpukan buku yang penuh dengan  peluh cerita hidupku.

Aku melewati setumpukan gelas kotor yang berdiri rapih seolah siap menopangku, apabila aku pingsan.

Dan aku mendengar, suara keributan hebat kami yang terekam rapih di dalam kotak sepatu.

Segelas kopi hitam dengan motif bunga yang bisa menenangkan ku tanpa berbicara apapun.

Dan suara sendok besi yang menjadi irama bergesekan dengan gelas berhasil menghiburku.

Tuhan menciptakan kopi, untuk orang seperti kami.

Bukan untuk yang tidak bisa tidur, tetapi justru yang ingin berdamai dalam tidur, dan kembali bermimpi.

Karena dalam mimpi, aku bisa menemukan kamar ini sebagai tempat yang paling nyaman di bumi.

 

Selamat lembur 🙂

Musim Hujan!

Akhirnya, musim hujan datang juga! Musim yang lebih banyak ngga suka nya, dibanding suka nya, menurut gue. Cuma satu yang gue suka dari musim hujan, Jakarta jadi ngga panas, awan dan udaranya bikin malas malas syahdu dan enak banget buat nemenin bobok siang. Sebagai anak kost yang setiap hari kekantor masih pakai teknologi transportasi online, aka Ojek Online. Biaya transportasi sekali jalan naik motor diluar musim hujan yang biasanya 6k harus nambah jadi 25k karena harus naik mobil, bukan motor lagi. Lumayan kan? Ya dong! Selain itu, kesulitan dapet driver juga jadi momok yang menyebalkan. Walau bukan sama jam kerja jadi taruhan nya, cuma bosen aja nunggu nya kelamaan.

Masalah paling besar adalah, cucian lama banget kering nya! Ini masalah utama sih, dua hari ini se-ember cucian kotor ngga selesai juga. Tenang aja, gue ngga nyuci baju sendiri kok, ada fasilitas kost yang nyuciin baju dan celana – yang gue maksud cucian disini ngga kering itu, my underwear and socks. Yap! Kali deh, underwear gue dicuciin sama orang lain, takut di santet.

Jadi, singkat cerita sampai hari ini, gegara hujan yang kadang turun di Pagi, Siang bahkan Malam, ngerusak semua jadwal cuci cuci gue,  matahari juga jadi males banget nunjukin sinarnya. kesel kan? Gue bikinin puisi dikit deh soal ini ;

“Mereka yang sedih, bisa jadi bahagia karena mu. Mereka yang bahagia bisa sedih karena mu. Alam seolah bekerja sama dengan hati yang merana, Maka kuyakini engkau sebagai takdir; tempat segala desir mengalir– hingga pemberhentian terakhir”

 

 

 

 

 

 

Sarapan Kami

Pagi ini,
Bangun tidur yang menyenangkan, ketika tahu masih ada dia yang tidur disamping saya.
Ketika mereka semua sibuk dengan memikirkan apa yang mereka kenakan untuk kerja.
Saya sibuk bersyukur.
Ketika mereka sibuk bertengkar dengan macetnya jalanan,
Saya sibuk sarapan dengan tubuh yang saling melekat.
Ketika mereka saling bersahutan dengan klakson di perapatan,
Saya menikmati sahutan lidah yang tetiba sampai di bawah pinggang.

Kami, iya kami.
Ritual setiap pagi, sebagai pengganti roti dan kopi diantara kami.