Mengasihi Kasian

Siang hari, kesedihan seperti tidak pernah ada didekat saya.

Tetapi malam hari, kesedihan datang dengan sapaan lembut, seperti pengamen tua dengan kecrekan ditangan, membagi senyum dengan harapan sebuah koin uang.

Setiap pagi, dia selalu mencium kening saya sebelum pergi,

Hangat, sayang, penuh kasih. Itu rasa yang saya rasakan sejak dulu, yang sekarang cuma jadi kenangan.

Kehangatan sepuluh detik, kini terasa kosong dan hampa.
Di Radio, aku tau ada seseorang yang mencoba mengusir mimpi buruk saya malam tadi.
Dengan dua mata yang terpejam, aku mulai merasakan sedikit kehangatan baru.
Seperti membelai dan mengusap dahi keningku, juga telingaku.
Sore, matahari mulai menunjukan kesedihan nya kepadaku.
Dengan warna sendu, seolah berkata kemana rindu mu?
Kaca toilet, kembali menyapa ku. Kasihan ya kamu.
Layar telepon genggam kebanyakan diam, lebih berisik telepon dimeja.
Aku ingat dia, dia juga ingat – dia versi yang lain.
Apabila nanti memang ingin pergi, pergi lah seperti layar handphone yang memberitahu apabila baterai nya sudah mulai melemah,
seperti ada pemberitahuan sejenak untuk aku persiapkan baterai baru atau mengisi kekosongan hati ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s