#365HariMenulis

Tahun lalu, waktu saya masih punya blogspot, disitu saya membuat postingan untuk #365harimenulis. Bukan sedang ikut kampanye berbayar, tapi sekedar tantangan untuk diri sendiri supaya bisa berkarya lebih rajin dalam menulis, sekaligus mencoba mengembangkan diri mempertajam keterampilan bermain dengan kata kata.

Berjalan dua bulan semua itu menjadi kegiatan menyenangkan yang terpaksa saya lakukan, demi berkembang. Tapi kenyataan nya, semua itu hanya bertahan 6 bulan. Tidak terlintas untuk jadi seorang penulis, blogger atau apalah sebutannya. Saya tidak ingin hari saya habis dan terbuang begitu saja tanpa menghasilkan karya atau tidak mendapat ilmu baru, pikir saya waktu itu. Setidaknya, ada yang berguna untuk saya atau orang lain. Ternyata itu bukan hal mudah. Bukan karena saya sibuk dikantor sehingga saya tidak punya cukup waktu, bukan juga karena selalu pulang malam yang membuat saya terlalu lelah untuk menulis. Itu semua mungkin jawaban egois saya, ketika menyalahkan pihak luar untuk menutupi kegagalan saya. Pendeknya, sebagian dari kira mungkin kerap menyalahkan banyak hal diluar diri kita. Padahal, persoalan terbesarnya justru terdapat dalam diri kita sendiri.

Musuh terbesar kita sebenarnya adalah pikiran kita sendiri. Pikiran negatif. Ketika pikiran negatif muncul untuk menguasai akal pikiran, disitu semua bencana bermulai, menurut saya. Ketika sedang mengalami kesulitan, pikirannegatif mulai merajalela bekerja mengeluarkan pikiran pipkiran busuk dan buruk, mencari pembenaran, dan berujung pada sebuah asumsi dan penilaian bahkan penghakiman. Dalam kondisi seperti itu, banyak sekali muntahan – muntahan kalimat pembenaran, sarkastik dengan nada mulai meninggi dan menyindir yang mungkin hanya membuat kita merasa “senang” sementara karena memuaskan hawa nafsu atau ego diri sendiri yang sebenarnya kita tahu, itu tidak akan mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

 

Waktu

Hari ini kejadian lagi, mundurin jam meeting. Gue kadang suka ngga ngerti apa yang ada dipikiran mereka, orang yang suka mundurin atau bahkan ngebatalin meeting tiba tiba. Di otak gue cuma satu “Paham yang namanya menghargai waktu ngga sih?”

master-of-time

Menurut Kamus besar bahasa Indonesia (2009) menghargai adalah menghormati, mengindahkan, memandang penting (bermanfaat dan berguna). Seseorang akan menghormati atau mengindahkan seseorang (atau sesuatu) ketika memandang penting seseorang (atau sesuatu) itu. Waktu menurut kamus besar bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa menghargai waktu adalah ketika seseorang dapat menggunakan waktu yang dimiliki untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Quality time atau waktu yang berkualitas merupakan refleksi dari berharganya setiap detik yang dilalui. Sejatinya, dalam kehidupan manusia memang tidak ada waktu yang tidak berkualitas karena waktu merupakan sesuatu yang berharga untuk dimanfaatkan dalam kehidupan manusia.

Nah, lanjut di kekesalan gue hari ini *mendadak murka dan bad mood seharian*. Jadi, ketika lo seenaknya mundurin kemudian ngebatalin atau nge-reschedule janji meeting secara mendadak, it’s a big NONO buat gue, cerminan dari sikap tidak menghargai waktu, tidak menghargai orang lain. Intinya, di umur yang baru mau masuk 30 th, gue mulai ngerasa benar adanya pepatah bilang “waktu lebih berharga daripada uang”. Waktu adalah sesuatu yang terus berjalan, selalu menuju ke masa depan dan meninggalkan masa lalu. Bahkan pada saat semua makhluk hidup berhenti melakukan aktivitas apapun waktu akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, tidak semakin cepat ataupun semakin lambat. Waktu adalah guru yang terbaik bagi setiap pembelajaran. Oleh sebab itu, memanfaatkan waktu merupakan sesuatu yang sangat bijaksana dalam menjalani kehidupan. Karena kalimat “menghabiskan waktu” adalah pekerjaan mudah dan seringkali kita lakuin, tapi yang susah adalah, bagaimana lo “menginvestasikan waktu.” Disaat kita lagi ngga punya apa apa, ngga punya rumah, pacar, uang, baju baru, sepatu  baru, kerjaan baru dan ngga punya lainnya, satu hal yang selalu kita punya, Waktu.

Jadi, apa lo sudah menginvestasikan waktu lo dengan baik dan bijak?

Kamis, 12 Oktober 2017 / Dikantor

Gelas Kopi dan Sendok Besi

a_small_cup_of_coffeeSesampainya dikamar ini,

Aku merasakan dinding bisu yang tak tahan ingin memeluk ku.

Aku hanya melihat selimut coklat, terlipat seperti tumpukan buku yang penuh dengan  peluh cerita hidupku.

Aku melewati setumpukan gelas kotor yang berdiri rapih seolah siap menopangku, apabila aku pingsan.

Dan aku mendengar, suara keributan hebat kami yang terekam rapih di dalam kotak sepatu.

Segelas kopi hitam dengan motif bunga yang bisa menenangkan ku tanpa berbicara apapun.

Dan suara sendok besi yang menjadi irama bergesekan dengan gelas berhasil menghiburku.

Tuhan menciptakan kopi, untuk orang seperti kami.

Bukan untuk yang tidak bisa tidur, tetapi justru yang ingin berdamai dalam tidur, dan kembali bermimpi.

Karena dalam mimpi, aku bisa menemukan kamar ini sebagai tempat yang paling nyaman di bumi.

 

Selamat lembur 🙂

Musim Hujan!

Akhirnya, musim hujan datang juga! Musim yang lebih banyak ngga suka nya, dibanding suka nya, menurut gue. Cuma satu yang gue suka dari musim hujan, Jakarta jadi ngga panas, awan dan udaranya bikin malas malas syahdu dan enak banget buat nemenin bobok siang. Sebagai anak kost yang setiap hari kekantor masih pakai teknologi transportasi online, aka Ojek Online. Biaya transportasi sekali jalan naik motor diluar musim hujan yang biasanya 6k harus nambah jadi 25k karena harus naik mobil, bukan motor lagi. Lumayan kan? Ya dong! Selain itu, kesulitan dapet driver juga jadi momok yang menyebalkan. Walau bukan sama jam kerja jadi taruhan nya, cuma bosen aja nunggu nya kelamaan.

Masalah paling besar adalah, cucian lama banget kering nya! Ini masalah utama sih, dua hari ini se-ember cucian kotor ngga selesai juga. Tenang aja, gue ngga nyuci baju sendiri kok, ada fasilitas kost yang nyuciin baju dan celana – yang gue maksud cucian disini ngga kering itu, my underwear and socks. Yap! Kali deh, underwear gue dicuciin sama orang lain, takut di santet.

Jadi, singkat cerita sampai hari ini, gegara hujan yang kadang turun di Pagi, Siang bahkan Malam, ngerusak semua jadwal cuci cuci gue,  matahari juga jadi males banget nunjukin sinarnya. kesel kan? Gue bikinin puisi dikit deh soal ini ;

“Mereka yang sedih, bisa jadi bahagia karena mu. Mereka yang bahagia bisa sedih karena mu. Alam seolah bekerja sama dengan hati yang merana, Maka kuyakini engkau sebagai takdir; tempat segala desir mengalir– hingga pemberhentian terakhir”