Kopi, Mas? 

“Udah mahal, bikin ribet lagi!”
Tiba tiba gue ngerasa jadi orang paling bodoh karena mesen kopi di dalam pesawat. Ngga ngebantu sama sekali dalam masalah perngantukan gue, bahkan sebenernya yang badan dan tenggorokan gue butuhin bukan kopi, tapi perkara mba mugari yang tiba tiba nyolek gue disaat gue lagi mimpi indah yang nota bene gue ngantuk super parah dan perlu tidur banget haru itu- jadinya gue randomly mesen kopi. Kira kira begini percakapan kami

Mba mugari : “pagi mas, kopi maaass” 

dengan suara cempreng dan gue sempet heran kenapa dia nawarin kopi ke gue kaya dia jualan kopi di alun alun. Sontak dong, gue yang lagi tidur ayam, kebangun dan reflek jawab :

“ah, boleh mba Kopi” jawab gue sambil setengah mata merem melek.

Jawaban itu keluar dibawah alam sadar gue, dan yang kayanya saat itu gue jauh banget ngayalnya, gue baru sadar ketika mba Mugari, ngasih kopi gue sambil bilang “kopinya jadi 20rb ya mas” sambil senyum polos ngeliat gue yang langsung setengah kaget muka nya

Gue dari ngantuk ngantuk ngablo tiba2 melek sadar “astaga! Gue naik air asia, kirain garuda!” Moment bengong berikutnya terjadi.
Dengan rasa berat hati tapi mau gimana lagi, gue ambil dompet dan uang 50 ribuan buat bayar kopi sialan harga 1000x lipat ini. – life must go on yakan. 

Setelah kopi ada didepqn muka gue, gue sadar. “Yatuhan, gue kan belum tidur seharian, dan barusan lagi enak enaknya bisa tidur di pesawat” Gimana ceritanya gue bisa tidur tapi ada kopi tanpa tutup gelas yang aman ada di depan gue. “Eek! Gue jadi gabisa tidur. Mata merem, tapi tangan insecure megangin kopi takut jatuh. 

“Yasalam, diminum engga, ngeribetin iya” 

Selamat jadi zombie di Bali, Bay! 
Sanur / 14 Okt 2017

Gelas Kopi dan Sendok Besi

a_small_cup_of_coffeeSesampainya dikamar ini,

Aku merasakan dinding bisu yang tak tahan ingin memeluk ku.

Aku hanya melihat selimut coklat, terlipat seperti tumpukan buku yang penuh dengan  peluh cerita hidupku.

Aku melewati setumpukan gelas kotor yang berdiri rapih seolah siap menopangku, apabila aku pingsan.

Dan aku mendengar, suara keributan hebat kami yang terekam rapih di dalam kotak sepatu.

Segelas kopi hitam dengan motif bunga yang bisa menenangkan ku tanpa berbicara apapun.

Dan suara sendok besi yang menjadi irama bergesekan dengan gelas berhasil menghiburku.

Tuhan menciptakan kopi, untuk orang seperti kami.

Bukan untuk yang tidak bisa tidur, tetapi justru yang ingin berdamai dalam tidur, dan kembali bermimpi.

Karena dalam mimpi, aku bisa menemukan kamar ini sebagai tempat yang paling nyaman di bumi.

 

Selamat lembur 🙂

Sarapan Kami

Pagi ini,
Bangun tidur yang menyenangkan, ketika tahu masih ada dia yang tidur disamping saya.
Ketika mereka semua sibuk dengan memikirkan apa yang mereka kenakan untuk kerja.
Saya sibuk bersyukur.
Ketika mereka sibuk bertengkar dengan macetnya jalanan,
Saya sibuk sarapan dengan tubuh yang saling melekat.
Ketika mereka saling bersahutan dengan klakson di perapatan,
Saya menikmati sahutan lidah yang tetiba sampai di bawah pinggang.

Kami, iya kami.
Ritual setiap pagi, sebagai pengganti roti dan kopi diantara kami.

Pay Attention.

Seperti namanya, dalam Bahasa inggris.

Pay Attention.

Membayar Perhatian.

Karena untuk sebuah perhatian, perlu uang, sekarang.

Mereka dengan mobil mewah, duduk di sebuah café dengan tawa penuh kepalsuan.

Mata nya yang kosong, seperti berbicara bosan tapi penuh pura pura.

Bibirnya gatal, mengomentari meja sebelah.

Bunyi piring dan sendok yang beradu, kalah dengan cerita seru yang saling mengadu.

Bukan saja mengadu domba, mungkin saja sedang mengadu doa.

Semua dibeli untuk perhatian, sekedar dilihat dan jadi pembicaraan.

Begitu penting untuk sebuah Pay Attention, ya?

Sesampainya dirumah, mereka sibuk mengeluh dan bebersih topeng nya.

Mengembalikan bentuk bibir yang melebar karena seharian dipaksakan tersenyum.

Atas nama karir dan hubungan baik, mereka berpura pura pada orang lain dan diri sendiri.

Kasihan atau Kasih Kan?

Mengasihi Kasian

Siang hari, kesedihan seperti tidak pernah ada didekat saya.

Tetapi malam hari, kesedihan datang dengan sapaan lembut, seperti pengamen tua dengan kecrekan ditangan, membagi senyum dengan harapan sebuah koin uang.

Setiap pagi, dia selalu mencium kening saya sebelum pergi,

Hangat, sayang, penuh kasih. Itu rasa yang saya rasakan sejak dulu, yang sekarang cuma jadi kenangan.

Kehangatan sepuluh detik, kini terasa kosong dan hampa.
Di Radio, aku tau ada seseorang yang mencoba mengusir mimpi buruk saya malam tadi.
Dengan dua mata yang terpejam, aku mulai merasakan sedikit kehangatan baru.
Seperti membelai dan mengusap dahi keningku, juga telingaku.
Sore, matahari mulai menunjukan kesedihan nya kepadaku.
Dengan warna sendu, seolah berkata kemana rindu mu?
Kaca toilet, kembali menyapa ku. Kasihan ya kamu.
Layar telepon genggam kebanyakan diam, lebih berisik telepon dimeja.
Aku ingat dia, dia juga ingat – dia versi yang lain.
Apabila nanti memang ingin pergi, pergi lah seperti layar handphone yang memberitahu apabila baterai nya sudah mulai melemah,
seperti ada pemberitahuan sejenak untuk aku persiapkan baterai baru atau mengisi kekosongan hati ini.

Another Chance?

you look at me and cry, everything hurts
i hold you and whisper, but everything can’t heal

can i ask you something before it’s end?
Your tounge is made of ?

You’re a good storyteller, 
building a good character to save your pleasure
but you’ve forgot put my name in it, as a writer.

Life has give you a chance
Heart give you a sense to choose
When your Head full of pleasure and curious
Betraying is your choice.

Please stop searching why, 
Now we all know
Who will stay or leave.
Don’t ask me why

Pain teach me how to survive
how to be strong, how to tolerate
to be love and being loved

Trust teach me how to love my self
What to believe, my head or my heart sound
or not anymore..

Tell me, what am i supposed to do with us
I don’t have any trust
You just only have lust
But you don’t have any guts
no, no more just
everything has changes to the dust.

“You’ve touched me without even touching me. F”