Pay Attention.

Seperti namanya, dalam Bahasa inggris.

Pay Attention.

Membayar Perhatian.

Karena untuk sebuah perhatian, perlu uang, sekarang.

Mereka dengan mobil mewah, duduk di sebuah café dengan tawa penuh kepalsuan.

Mata nya yang kosong, seperti berbicara bosan tapi penuh pura pura.

Bibirnya gatal, mengomentari meja sebelah.

Bunyi piring dan sendok yang beradu, kalah dengan cerita seru yang saling mengadu.

Bukan saja mengadu domba, mungkin saja sedang mengadu doa.

Semua dibeli untuk perhatian, sekedar dilihat dan jadi pembicaraan.

Begitu penting untuk sebuah Pay Attention, ya?

Sesampainya dirumah, mereka sibuk mengeluh dan bebersih topeng nya.

Mengembalikan bentuk bibir yang melebar karena seharian dipaksakan tersenyum.

Atas nama karir dan hubungan baik, mereka berpura pura pada orang lain dan diri sendiri.

Kasihan atau Kasih Kan?

Mata Kuliah Kantor

Beberapa bulan terakhir ini, hidup sering ngasih gue kejutan. Bukan kejutan yang bikin gue seneng, tapi kejutan yang lumayan ngga ngenakin, ya namanya juga kejutan ya. Kadang enak, kadang ngga enak juga.

Beberapa tahun ini, banyak yang bilang kalau kerja di dunia kreatif itu seru, oh iya seru banget. Bisa kerja dimana aja, kerja santai, yang penting rajin berkhayal, rajin explore sesuatu yang beda, dan tentunya rajin juga banyak main supaya dapet referensi yang banyak tentang apapun yang ngebantu banget di kerjaan.

 

 

 

Mengasihi Kasian

Siang hari, kesedihan seperti tidak pernah ada didekat saya.

Tetapi malam hari, kesedihan datang dengan sapaan lembut, seperti pengamen tua dengan kecrekan ditangan, membagi senyum dengan harapan sebuah koin uang.

Setiap pagi, dia selalu mencium kening saya sebelum pergi,

Hangat, sayang, penuh kasih. Itu rasa yang saya rasakan sejak dulu, yang sekarang cuma jadi kenangan.

Kehangatan sepuluh detik, kini terasa kosong dan hampa.
Di Radio, aku tau ada seseorang yang mencoba mengusir mimpi buruk saya malam tadi.
Dengan dua mata yang terpejam, aku mulai merasakan sedikit kehangatan baru.
Seperti membelai dan mengusap dahi keningku, juga telingaku.
Sore, matahari mulai menunjukan kesedihan nya kepadaku.
Dengan warna sendu, seolah berkata kemana rindu mu?
Kaca toilet, kembali menyapa ku. Kasihan ya kamu.
Layar telepon genggam kebanyakan diam, lebih berisik telepon dimeja.
Aku ingat dia, dia juga ingat – dia versi yang lain.
Apabila nanti memang ingin pergi, pergi lah seperti layar handphone yang memberitahu apabila baterai nya sudah mulai melemah,
seperti ada pemberitahuan sejenak untuk aku persiapkan baterai baru atau mengisi kekosongan hati ini.

Another Chance?

you look at me and cry, everything hurts
i hold you and whisper, but everything can’t heal

can i ask you something before it’s end?
Your tounge is made of ?

You’re a good storyteller, 
building a good character to save your pleasure
but you’ve forgot put my name in it, as a writer.

Life has give you a chance
Heart give you a sense to choose
When your Head full of pleasure and curious
Betraying is your choice.

Please stop searching why, 
Now we all know
Who will stay or leave.
Don’t ask me why

Pain teach me how to survive
how to be strong, how to tolerate
to be love and being loved

Trust teach me how to love my self
What to believe, my head or my heart sound
or not anymore..

Tell me, what am i supposed to do with us
I don’t have any trust
You just only have lust
But you don’t have any guts
no, no more just
everything has changes to the dust.

“You’ve touched me without even touching me. F”